Kaderisasi
Ulama dan Intelektual sejak dini untuk menghadapi masa depan penuh keberkahan
Klik Disini

Pesantren Kembangkan Budidaya Lele, Bentuk Kemandirian Ekonomi Santri

Program budidaya lele ini juga mendapat dukungan dari para wali santri dan masyarakat sekitar. Selain menambah pemasukan untuk pesantren, kegiatan ini turut memperkuat semangat ekonomi berbasis kemandirian dan gotong royong.

Santri yang tergabung dalam unit budidaya ini mengaku antusias dan merasa mendapatkan pengalaman baru yang sangat bermanfaat. “Kami belajar banyak, bukan hanya agama, tapi juga bagaimana memelihara ikan, mengatur waktu, bahkan menghitung biaya dan keuntungan,” ungkap salah satu santri kelas Aliyah.

Parung, Bogor – Dalam upaya membangun kemandirian ekonomi serta menanamkan jiwa wirausaha kepada para santri, Pesantren Sunan Drajat Al-Qosimiyyah Parung Bogor memulai program budidaya ikan lele sebagai salah satu kegiatan produktif pesantren.

Program ini dilaksanakan di lahan pesantren dengan sistem kolam terpal yang hemat biaya dan efisien dalam perawatan. Para santri secara aktif dilibatkan dalam setiap tahap proses, mulai dari persiapan kolam, penebaran benih, pemberian pakan, hingga panen dan pemasaran hasil lele.

“Budidaya lele ini bukan hanya untuk konsumsi pesantren, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan pelatihan kewirausahaan bagi para santri,” ujar Abuya KH. M. Munawwir Al-Qosimi, pendiri dan pengasuh pesantren. Beliau menambahkan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bekal keterampilan hidup (life skill) bagi santri setelah lulus nanti.

Ke depan, pihak pesantren berencana memperluas budidaya ke jenis ikan lainnya dan mengembangkan unit olahan lele seperti abon, keripik, dan lele asap untuk menambah nilai jual.

Program ini menjadi bukti nyata bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pembinaan spiritual, tetapi juga bisa menjadi pusat pemberdayaan ekonomi dan keterampilan santri secara berkelanjutan.

Sharing is caring

Kuasai Kitab Kuning dengan Metode Sunan Ampel yang Dikemas Klasik dan Modern

Parung, 26 Mei 2025 – Pesantren Sunan Drajat Al-Qosimiyyah yang berlokasi di Parung, Bogor, terus menunjukkan komitmen kuat dalam melestarikan tradisi keilmuan Islam dengan penguasaan kitab kuning sebagai basis utama pendidikan santri. Pesantren ini menerapkan metode pembelajaran yang dikenal sebagai metode Sunan Ampel, sebuah pendekatan klasik yang diwariskan secara turun-temurun dan kini dikemas dengan sentuhan modern untuk menjawab tantangan zaman.

Metode Sunan Ampel yang diterapkan di pesantren ini dikenal dengan pendekatan bertahap yang sistematis. Metode ini menekankan pengenalan terhadap lafaz Arab, pemahaman makna, hingga pendalaman ilmu nahwu, sharaf, fikih, dan tafsir secara mendalam.

“Metode ini memadukan antara pendekatan klasik dengan filosofi pembelajaran yang dikenal dengan istilah ‘utawi’ dan ‘iku’ dalam bahasa Jawa. ‘Utawi’ berarti ‘atau’, ‘iku’ berarti ‘itu’. Pendekatan ini mengajarkan santri untuk memahami variasi bacaan dan makna dengan cara kontekstual, bukan sekadar hafalan,” jelas Buya KH. M. Munawwir Al-Qosimi, pengasuh Pesantren Sunan Drajat Al-Qosimiyyah.

Selain mempertahankan metode klasik, pesantren ini juga mengadopsi teknologi digital dalam proses pembelajaran. Penggunaan aplikasi pembelajaran, video tutorial interaktif, hingga media sosial sebagai sarana diskusi menjadi bagian dari metode modern yang diterapkan.

“Perpaduan metode klasik dan modern ini membuat santri tidak hanya menguasai kitab kuning secara teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari dengan pemahaman yang lebih kontekstual,” lanjut Buya Munawwir.

Dalam wawancara khusus, Buya Munawwir menyampaikan bahwa tantangan terbesar dalam pembelajaran kitab kuning saat ini adalah minat dan metode belajar generasi muda yang semakin berubah.

“Kita tidak bisa hanya terpaku pada metode lama. Santri zaman sekarang butuh cara belajar yang lebih menarik dan interaktif. Oleh karena itu, kami berusaha mengemas pembelajaran kitab kuning dengan pendekatan yang relevan, tetap mempertahankan nilai-nilai klasik namun juga responsif terhadap perkembangan teknologi,” tuturnya.

Lebih lanjut, Buya Munawwir berharap agar para santri tidak hanya menjadi penghafal kitab, tetapi juga dapat mengembangkan pemikiran kritis dan menerapkan ilmu tersebut dalam dakwah dan kehidupan bermasyarakat.

Pesantren Sunan Drajat Al-Qosimiyyah telah melahirkan banyak alumni yang kini aktif sebagai ulama, pendidik, dan penggerak dakwah di berbagai daerah. Mereka menjadi bukti nyata keberhasilan metode pembelajaran kitab kuning yang diterapkan pesantren ini.

Ke depan, pesantren berencana memperluas pelatihan intensif dalam membaca, menulis, dan memahami kitab kuning dengan teknik tajwid, balaghah, dan sharaf yang tepat. Selain itu, pesantren juga akan mengembangkan laboratorium digital untuk pembelajaran kitab secara online agar santri dari berbagai daerah bisa mengakses ilmu dengan mudah. Wallahu Alam

Sharing is caring